Tanpa Iklan Sekalipun Rokok Sudah Pasti Laku


Peringatan kesehatan yang saat ini ada di bungkus rokok dinilai sangat tidak seimbang dengan iklan dan promosi yang beredar dengan berbagai cara, baik di media elektronik, cetak maupun baliho. Bahkan, tanpa iklan sekalipun rokok sebenarnya sudah pasti laku di pasaran.

"Selama ini bahaya rokok selalu ditutupi oleh industri dengan peringatan yang kecil sekali, yang bagi konsumen itu informasinya tidak jelas. Tapi kemudian iklannya dan promosi masih sangat kuat, jadi satu sisi ada peringatan kesehatan yang sangat kecil berupa tulisan dan di sisi lain iklan lebih dominan. Ini menjadikan psikologi konsumen menjadi terganggu," ujar Tulus Abadi, Anggota Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), disela-sela orasinya menuntut pengesahan RPP Pengamanan Produk Tembakau di depan Gedung Kemenkes, Jakarta, Kamis (26/4/2012).

Tulus mengatakan peringatan kesehatan berupa tulisan yang berukuran kecil dan iklan besar-besaran akan membuat konsumen menjadi bingung. Menurutnya, kalau memang berbahaya mengapa harus diiklankan.
Ketika diiklankan, orang akan didorong untuk membeli padahal rokok diketahui sebagai zat berbahaya yang bisa meracuni tubuh. Tindakan pemerintah dinilai tidak jelas, di satu sisi ada peringatan kesehatan yang artinya masyarakat diminta untuk mengurangi konsumsi atau bahkan meninggalkan rokok, tapi di sisi lain ada iklan yang sangat gencar.

Walaupun iklan tidak menunjukkan bentuk atau gambar rokok, tetapi Tulus menganggap itu menjadi legalisasi yang sah atau dianggap seperti produk yang menyehatkan.

"Seharusnya di seluruh dunia rokok itu tidak ada iklannya, karena tanpa iklan pun itu sudah pasti laku. Nah, keberadaan iklan ini menjadi merancuan terhadap pilihan konsumen untuk merokok atau tidak merokok," ujar Tulus.

Tulus menuturkan, konsumsi tembakau akan menurun jika regulasinya komprehensif dan cukai bisa dinaikkan.

"Cukai itu kan sebenarnya diberikan pada barang yang 'berdosa' dalam artian beracun. Nah, di kita cukainya malah paling murah di dunia. Jadi masyarakat masih bisa membeli dengan gampang dan dibeli dengan harga murah," tutur Tulus.